TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA DI BLOG INI
Tampilkan postingan dengan label Kisah: Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah: Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 September 2010

Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah



Siapakah kiranya orang yang dipegang oleh Rasulullah saw dengan tangan kanannya sambil bersabda, “Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah.”

Siapakah orang yang dikirim oleh Nabi ke medan tempur Dzatus Salasil sebagai bantuan bagi Amar bin ‘Ash, dan diangkatnya sebagai panglima dari suatu pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar.
Siapakah sahabat yang mula pertama disebut sebagai amirul umara atau panglima besar ini.
Dan siapakah orang yang tinggi perawakannya tetapi kurus tubuhnya, tipis jenggotnya, berwibawa wajahnya, dan ompong karena patah dua gigi mukanya.
Yah, siapakah kiranya orang kuat lagi terpercaya, sehingga Umar bin Khattab ketika hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir pernah berkata mengenai pribadinya, “Seandainya Abu ‘Ubadah ibnul Jarrah masih hidup, tentulah ia di antara orang-orang yang akan saya angkat sebagai penggantiku. Dan jika Tuhanku menanyakan hal itu tentulah, “Saya angkat kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya.”
Ia adalah Abu ‘Ubaidah, Amir bin Abdillah ibnul Jarrah. Ia masuk Islam melalui Abu Bakar Shiddiq di awal mula kerasulan, yakni sebelum Rasulullah saw mengambil rumah Arqam sebagai tempat da’wah. Ia ikut hijrah ke Habsy pada kali kedua. Ia kembali pulang agar dapat mendampingi Rasulullah di perang Badar, perang Uhud, dan pertempuran-pertempuran lainnya. Lalu sepeninggal Rasulullah, dilanjutkannya gaya hidupnya sebagai seorang kuat yang dipercaya mendampingi Abu Bakar dan kemudian Umar dalam pemerintahan masing-masing dengan mengesampingkan dunia kemewahan dalam menghadapi tanggung jawab keagamaan, baik dalam zuhud dan ketaqwaan, amanah dan keteguhan.
Ketika Abu ‘Ubaidah bai’at atau sumpah setia kepada Rasulullah saw akan membangkitkan hidupnya di jalan Allah, ia menyadari sepenuhnya makna kata-kata yang tiga ini: berjuan dijalan Allah, dan telah memiliki persiapan sempurna untuk menyerahkan kepadanya apa saja yang diperlukan berupa darma bakti dan pengurbanan.
Semenjak ia mengulurkan tangannya untuk bai’at kepada Rasulullah, ia tidak memperhatikan kepentingan pribadi dan masa depannya. Seluruh kehidupannya dihabiskan dalam mengemban amanat yang dititipkan Allah kepadanya dan dibaktikan pada jalan-Nya demi mencapai keridhaan-Nya. Tiada suatu pun yang dikejar untuk kepentingan dirinya pribadi, dan tiada satu keinginan atau kebencian pun yang dapat menyelewengkannya dari jalan Allah itu.
Maka tat kala Abu ‘Ubaidah telah menepati janji yang dilakukan oleh para sahabat lainnya, dilihat pula oleh Rasulullah sikap jiwa dan tata cara kehidupannya yang menyebabkannya layak untuk menerima gelar mulia yang diserahkan serta dihadiahkan Rauslullah kepadanya, dengan sabdanya:
“Orang kepercayaan ummat ini, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah.”
Amanat atau kepercayaan yang dipenuhi oleh Abu ‘Ubaidah atas segala tanggung jawabnya, merupakan sifatnya yang paling menonjol. Umpamanya waktu perang Uhud, dari gerak gerik dan jalan pertempuran, diketahuinya bahwa tujuan utama dari orang-oarng musyrik itu adalah bukanlah hendak merebut kemenangan, tetapi untuk menghabisi riwayat Nabi Besar dan merenggut nyawanya. Ia berjanji kepada dirinya untuk selalu dekat dengan Rasulullah di arena perjuangan itu.
Maka dengan pedangnya yang terpercaya seperti dirinya pula, ia maju ke muka, merambah dan mendesak tentara berhala yang hendak melampiaskan maksud jahat mereka untuk memadamkan nur Ilahi. Setiap suasana medan pertempuran memaksanya terpisah jauh dari Rasulullah saw, ia tetap bertempur tanpa melepaskan pandangan matanya dari kedudukan Rasulullah itu yang selalu diikutinya dengan hati cemas dan jiwa gelisah. Jika dilihatnya ada bahaya yang mengancam Nabi, maka ia bagaikan disentakan dari tempatnya lalu melompat menerkam musuh-musuh Allah dan menghalau mereka ke belakang sebelum mereka sempat mencelakakannya.
Suatu ketika pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, ia terpisah dari Nabi karena terkepung oleh tentara musuh; tetapi seperti biasa kedua matanya bagai mata elang mengintai kedaan sekitarnya. Hampir saja ia gelap mata, melihat sebuah anak panah meluncur dari tangan seorang musyrik lalu mengenai Nabi. Terlihatlah pedangnya yang sebilah itu berkelibatan, tak ubah bagai seratus bilah pedang menghantam musuh yang mengepungnya hingga mencerai-beraikan mereka, lalu ia terbang mendapatkan Rasulullah. Didapatinya darah beliau yang suci mengalir dari mukanya, dan dilihatnya Rasulullah, Al-Amin, menghapus darah dengan tangan kanannya, sambil bersabda:
“Bagaimana mungkin berbahagia suatu kaum yang mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Nabi mereka, padahal ia menyerunya kepada Tuhan mereka.”
Abu ‘Ubaidah melihat dua buah mata rantai baju besi penutup kepala Rasulullah menancap di kedua belah pipinya. Abu ‘Ubaidah tak dapat manahan hatinya lagi; ia segera menggigit salah satu mata rantai itu dengan gigi manisanya lalu menariknya dengan kuat dari pipi Rasulullah hingga tercabut keluar, tetapi bersamaan dengan itu, tercabut pula sebuah gigi manis Abu ‘Ubaidah, lalu ditariknya mata rantai yang kedua dan tercabut pulalah gigi manis Abu ‘Ubaidah yang kedua. Dan baiklah kita serahkan kapda Abu Bakar Shiddiq untuk menceritakan persitiwa itu;
“Di waktu perang Uhud dan Rasulullah saw ditimpa anak panah hingga dua buah rantai ketopong masuk ke dua belah pipinya bagian atas, saya segera berlari mendapatkan Rasulullah saw kiranya ada seorang yang datang bagaikan terbang dari jurusan timur, maka kataku: ‘Ya Allah, moga-moga itu merupakan pertolongan!’ Dan kala kami sampai pada Rasulullah, kiranya orang itu adalah Abu ‘Ubaidah yang telah mendahuluinya ke sana, serta katanya, “Atas nama Allah, saya minta kepada anda wahai Abu Bakar, agar saya dibiarkan mencabutnya dari pipi Rasulullah saw.” Saya pun membiarkanya, maka dengan gigi mukanya Abu ‘Ubaidah mencabut salah satu mata rantai baju besi penutup kepala beliau hingga ia terjatuh ke tanah, dan bersamaan dengan itu jatuhlah pula sebuah gigi manis Abu ‘Ubaidah. Kemudian ditariknya pula mata rantai yang kedua dengan giginya yang lain hingga sama tercabut, meneyebabkan Abu ‘Ubaidah tampak di hadapan orang banyak bergigi ompong.”
Di saat-saat bertambah besar dan meluasnya tanggung jawab para sahabat, maka amanah dan kejujuran Abu ‘Ubaidah meningkatlah pula. Tat kala ia dikirim oleh Nabi saw dalam ekspedisi “Daun Khabath” dengan memimpin lebih dari tiga ratus orang prajurit sedang berbekalan mereka tidak lebih dari sebakul kurma, sementara tugas sulit dan jarak yang akan ditempuh jauh pula, Abu ‘Ubaidah menerima perintah itu dengan taat dan hati gembira. Bersama anak buahnya pergilah ia ke tempat yang dituju, dan berbekallah setiap prajurit setiap harinya hanyalah segenggam kurma. Ketika perbekalan hampir habis, maka bagian masing-maisng prajurit hanyalah sebuah kurma untuk sehari. Tat kala habis sama sekali, mereka mulai mencari daun kayu yang disebut “khabath,” lalu mereka tumbuk hingga halus seperti tepung dengan menggunkan alat senjata. Di samping daun-daun itu dijadikan sebagai makanan, dapat pula mereka gunakan sebagai wadah untuk air minum. Itulah sebabnya ekspedisi ini disebut ekspedisi “Daun Khabath.”
Mereka terus maju tanpa menghiraukan lapar dan dahaga, dan tak ada tujuan mereka kecuali menyelesaikan tugas mulia bersama panglima mereka yang kuat lagi terpercaya.
Rasulullah amat sayang kepada Abu ‘Ubaidah sebagai orang kepercayaan ummat, dan beliau sangat terkesan kepadanya. Tatkala datang perutusan Najran dari Yaman menyatakan keislaman mereka dan meminta kepada Nabi agar dikirim bersama mereka seorang guru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta seluk beluk agama Islam, maka ujar beliau:
“Baiklah, akan saya kirim bersama Tuan-Tuan seorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.”
Para sahabat mendengar pujian yang keluar dari mulut Rasulullah saw ini, dan masing-masing berharap agar pilihan agar jatuh kepada dirinya, hingga beruntung beroleh pengakuan dan kesaksian yang tak dapat diragukan lagi kebenarannya.
Umar bin khattab menceritakan peristiwa itu sebagai berikut:
“Aku tak pernah berangan-angan menjadi amir, tetapi ketika itu aku tertarik oleh ucapan beliau dan mengharapkan yang dimaksud beliau itu adalah aku. Aku cepat-cepat berangkat untuk shalat dhuhur. Dan tatkala Rasulullah selesai mengimami kami shalat dhuhur, beliau memberi salam, lalu menoleh kesebelah kanan dan kiri. Maka saya pun mengulurkan badan agar kelihatan oleh beliau. Tetapi ia juga masih melayangkan pandangannya menacari-cari, hingga akhirnya tampaklah Abu ‘Ubaidah, maka dipanggilnya, lalu sabdanya: “Pergilah berangkat bersama mereka dan selesaikanlah apabila terjadi perselisihan di antara mereka dengan haq.”
Maka Abu ‘Ubaidah berangkatlah bersama orang-orang itu.”
Dengan peristiwa ini, tentu saja tidak berarti bahwa Abu ‘Ubaidah merupakan satu-satunya yang mendapat kepercayaan dan tugas dari Rasulullah, sedang lainnya tidak. Maksudnya ialah bahwa ia adalah salah seorang yang beruntung beroleh kepercayaan yang berharga serta tugas mulia ini. Di samping itu, ia adalah salah seorang, mungkin juga satu-satunya orang pada masa itu, yang berpropesi da’i.
Sebagaimana Abu Ubaidah menjadi seorang kepercayaan di masa Rasulullah saw , demikian pula setelah Rasulullah wafat, ia tetap sebagai orang kepercayaan; memikul semua tanggung jawab dengan sifat amanah. Wajarlah apabila ia menjadi suri teladan bagi seluruh ummat manusia.
Di bawah panji-panji Islam, kemana pun ia pergi, ia adalah seorang prajurit yang dengan keutamaan dan keberaniannya melebihi seorang amir atau panglima; dan disaat ia sebagai panglima, karena keikhlasan dan kerendahan hatinya, menyebabkan tidak lebih dari seorang prajurit biasa.
Kemudian, tatkala Khalid bin Walid sedang memimpin tentara Islam dalam salah satu pertempuran terbesar yang menentukan, tiba-tiba amirul mu’minin Umra mema’lumkan titahnya untuk mengangkat Abu ‘Ubaidah sebagai pengganti Khalid, maka demi diterimanya berita itu, dari utusan khalifah, dimintanya orang itu untuk merahasiakan berita tersebut kepada umum. Sementara, Abu ‘Ubaidah sendiri mendiamkannya dengan suatu niat dan tujuan baik sebagai lazimnya dimiliki seorang zuhud, arif, bijaksana, lagi dipecaya, menunggu selesainya panglima Khalid itu merebut kemenangan besar.
Setelah kemenangan tercapai, barulah ia mendapatkan Khlaid dengan hormat dan ta’dhimnya untuk menyerahkan surat dari amirul mu’minin. Ketika Khalid bertanya kepadanya, “Semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu ‘Ubaidah! Apa sebanya anda tidak menyampaikannya kepadaku di waktu datangnya?” Maka ujar kepercayaan ummat itu, “Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak anda, dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan pula untuk dunia kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah.”
Demikianlah, Abu ‘Ubaidah telah menjadi panglima besar di Syria Di bawah kekuasaanya, bernaung sebagian besar tentara Islam, baik dalam luas wilayahnya, maupun dalam perbekalan dan jumlah bilangannya. Tetapi bila anda melihatnya, maka sangka anda bahwa ia adalah salah seorang prajurit biasa serta pribadi biasa dari kaum muslimin.
Ketika sampai kepadanya perbincangan orang-orang Syria tentang dirinya dan keta’juban mereka terhadap sebutan panglima besar, dikumpulkannya mereka lalu ia berdiri menyampaikan pidato.
Nah, cobalah anda sekalian perhatikan apa yang diucapkannya kepada orang-orang yang terpesona dengan kekuatan, kebesaran dan sifat amanahnya, “Hai ummat manusia?.!”
“Sesungguhnya saya ini adalah seorang muslim dari suku Quraisy. Dan siapa saja diantara kalian, baik ia berkulit merah atau hitam yang lebih takwa dari padaku, hatiku ingin sekali berada dalam bimbingannya?.!”
Semoga Allah melanjutkan kebahagiaanmu, wahai Abu ‘Ubaidah. Dan mengekalkan agama yang telah mendidikmu, serta Rasulullah yang telah mengajarimu.
Kedudukannya sebagai panglima besar, dan pemimpin tentara Islam yang paling banyak jumlahnya dan paling menonjol keperwiraannya serta paling besar kemenangannya, begitu pun sebagai wali negeri diwilayah Syria yang semua kehendakanya berlaku dan perintahnya ditaati, maka semua itu dan lainnya yang serupa, tidak menggoyahkan ketakwaanya sedikit pun, dan tidak dijadikan andalan.
Amirul Mu’minin umar bin Khattab datang berkunjung ke Syria, kepada para penyambutnya ditanyakannya:
“Mana saudara saya?”
“Siapa?,” ujar mereka.
“Abu ‘Ubaidah Ibnul Jarrah,” katanya pula.
Kemudian datanglah Abu ‘Ubaidah yang kemudian dipeluk oleh Amirul Mu’minin, lalu mereka pergi bersama-sama kerumahnya. Maka tidak satu pun perabot rumah tangga terdapat di rumah itu, kecuali pedang, tameng serta pelana kendarannya.
Sambil tersenyum, Umar bertanya kepadanya, “Kenapa tidak kau ambil untuk dirimu sebagaimana dilakukan oleh orang lain?” Maka jawab Abu ‘Ubaidah, “Wahai Amirul Mu’minin, ini menyebabkan hatiku lega dan sempat beristirahat.”
Pada suatu hari di Madinah, tat kala Amirul Mu’minin Umar Al-Faruq sibuk menangani dunia Islam yang luas, disampaikan orang berita berkabung meninggalnya Abu ‘Ubaidah.
Maka terpejamlah kedua pelupuk matanya yang telah digenangi air. Dan air itu pun meleleh, hingga Amirul Mu’minin membuka matanya dengan tawakal menyerahkan diri. Dimohonkannya rahmat bagi sahabatnya itu, dan bangkitlah kanangan-kenangan lamanya bersama almarhum ra yang ditampungnya dengan hati sabar diliputi duka. Kemudian diulangi kembali ucapan berkenaan sahabatnya itu, katanya:
“Seandainya aku bercita-cita, maka tak adalah harapanku selain sebuah rumah yang penuh di diami oleh tokoh-tokoh seperti Abu ‘Ubaidah.”
Orang kepercayan dari ummat ini wafat diatas bumi yang telah disucikannya dari keberhalaan Persi dan penindasan Romawi. Dan disana sekarang ini, yaitu dalam pangkuan tanah Yordania, bermukim tulang kerangka yang mulia, yang dulunya tempat bersemayam jiwa yang tenteram dan ruh pilihan.
Meskipun makamnya sekarang ini dikenal orang atau tidak, sama saja halnya bagi dia atau bagi anda, karena seandainya anda bermaksud hendak mencapainya, anda tidak memerlukan petunjuk jalan, karena jasa-jasanya yang tidak terkira akan menuntun anda ke tempatnya itu.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid


Selengkapnya...

'Ubadah bin Shamit



‘Ubadah bin Shamit termasuk salah seorang tokoh Anshar. Mengeani Kaum Anshar, Rasullulah SAW pernah bersabda, “Sekiranya orang-orang Anshar menuruni lembah atau celah bukit pasti aku akan mendatangi lembah dan celah bukit orang-orang Anshar…, dan kalau bukanlah karena hijrah, tentulah aku akan menjadi salah seorang warga Anshar…!”

Disamping sebagai warga kaum Anshar, ‘Ubadah bin Shamit merupakah salah seorang pemimpin yang di pilih Rasullulah SAW sebagai utusan yang mewakili kaum kerabat mereka.
‘Ubadah r.a. termasuk perutusan Anshar yang pertama datang ke Mekah untuk mengangkat bai’at kepada Rasullulah SAW untuk masuk Islam, yakni bai’at yang terkenal sebagai “Bai’atul ‘Aqabah pertama.” Ia termasuk salah satu dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislaman dan mengangkat bai’at, serta menajbat tangannya, menyatakan sokongan dan kesetiaan kepada Rasullulah SAW.
Ketika datang musim haji tahun berikutnya, yakni saat terjadinya “Bai’atul ‘Aqabah kedua” yang dilakukan oleh perutusan Anshar yang terdiri dari 70 orang beriman (pria dan wanita), maka ‘Ubadah menjadi tokoh utusan dan wakil mereka.
Kemudian, saat-saat perjuangan, kebaktian dan pengorbanan susul-menyusul tiada henti, maka ‘Ubadah bin Shamit tak pernah absen dan tak ketinggalan dari setiap peristiwa untuk memberikan sahamnya.
Semenjak ia menyatakan Allah dan Rasul sebagai pilihannya, maka dipikulnya segala tanggung jawab dengan seabaik-baiknya. Segala cinta kasih dan ketaatannya hanya tertumpah kepada Allah SWT dan segala hubungan, baik dengan kaum kerabat, dengan sekutu-sekutu, maupun dengan musuh-musuhnya, hanya menuruti pola yang dibentuk oleh keimanan dan norma-norma yang dikehendaki oeh keimanan ini.
Sejak dahulu, keluarga ‘Ubadah bin Shamit telah terikat dalam suatu perjanjian dengan orang-orang Yahudi suku Qainuqa’ di Madinah. Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya hijrah ke kota ini, orang-orang Yahudi memperlihatkan sikap damai dan persahabatan terhadapnya. Tetapi, pada hari-hari yang mengiringi perang Badar dan mendahului perang Uhud, orang-orang Yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Salah satu kabilah mereka, yaitu Bani Qainuqa’, membauat ulah untuk menimbulkan fitnah dan keributan di kalangan kaum muslimin.
Demi dilihat oleh ‘Ubadah bin Shamit, sikap dan pendirian mereka ini, secepatnya ia melakukan tindakan yang setimpal dengan jalan membatakan perjanjian dengan mereka, katanya:
“Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman….!”
Tidak lama kemudian, turunlah ayat Al-Qur’an yang memuji sikap dan kesetiannya, firman Allah SWT:
“Barang siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, partai atau golongan Allahlah yang beroleh kemenangan.” (Q. S. Al-Maidah: 56)
‘Ubadah bin Shamit pada mulanya hanya menjadi wakil kaum keluarganya dari suku Khazraj, sekarang meningkat menjadi salah seorang pelopor tokoh Islam dan salah seorang pemimpin kaum muslimin.
Pada suatu hari, Rasullah SAW menjelaskan tanggung jawab seorang Amir atau wali. Didengarnya bahwa Rasulullah menyatakan nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajiban di antara mereka atau memperkaya dirinya dengan harta, maka tubuhnya gemetar dan hatinya berguncang. Ia bersumpah kepada Allah tidak akan menajdi kepala walau atas dua orang sekalipun. Sumpahnya ini dipenuhi sebaik-baiknya dan tak pernah dilanggarnya.
Dimasa pemerintahan Amirul Mukminin Umar r.a , tokoh yang bergelar Al-Faruq ini pun tidak berhasil mendorongnya untuk menerima suatu jabatan, kecuali dalam mengajar ummat dan memperdalam pengetahuan mereka dalam soal agama.
Memang, inilah satu-satunya usaha yang lebih diutamakan ‘Ubadah dari lainnya, menjauhkan dirinya dari usaha-usaha lain yang ada sangkut pautnya dengan harta benda dan kemewahan saerta kekuasaan, begitu pun dari segala mara bahaya yang dikhawatikan akan merusak agama dan karir dirinya. Oleh sebab itu, ia berangkat ke Syria bersama dua orang kawan seperjuangannya: Mu’adz bin Jabal dan Abu Darda. Tiada tujuan lain, kecuali mereka hendak meyebarluaskan ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan di negeri itu.
‘Ubadah juga pernah berada di palestina untuk beberapa waktu dalam melaksanakan tugas sucinya, sedang yang menjalankan pemerintahan ketika itu atas nama Khalifah ialah Mu’awiyah.
Sementara ‘Ubadah bermukim di Syria, walaupun badannya terkurung di sana, tetapi pandangan matanya bebas lepas dan merenung jauh kesana melewati tapal batas, yaitu ke Madinah Al-Munawarah. Di saat itu, Madinah adalah ibu kota Islam dan tempat kedudukan khalifah, yakni Umar bin Khatab, seorang tokoh yang tak ada duanya dan tamsil bandingannya. Kemudian pandangannya kembali ke bawah pelupuk matanya, yakni ke Palestina, tempat ia bermukim. Tampaklah olehnya Mua’wiyah bin Abu Sufyan, seorang pecinta dunia dan haus kekuasaan.
‘Ubadah termasuk dalam rombongan perintis yang telah dididik oleh Nabi Muhammad SAW dengan tangannya sendiri, yang telah beroleh limpahan mental, cahaya dan kebesarannya….
Seandainya di kalangan orang-orang yang masih hidup ada yang dapat ditonjolkan untuk percontohan luhur sebagai kepala pemerintahan yang dikagumi oleh ‘Ubadah dan dipercayainya, orang itu tidak lain adalah orang terkemuka yang sedang berkuasa di Madinah, ialah Umar bin Khattab.
Amirul Mu’minin Umar adalah seorang yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan pandangan jauh. Ia selalu menginginkan kepala-kepala daerah tidak hanya mengandalkan kecerdasannya semata dan menggunakan tanpa reserve. Terhadap orang-orang seperti Mu’awiyah dan kawan-kawannya, tidak dibiarkan begitu saja tanpa didampingi sejumlah sahabat yang zuhud dan shaleh, serta penasihat yang tulus ikhlas. Mereka bertugas membendung keinginan-keinginan yang tidak terbatas, dan selalu mengingatkan mereka akan hari-hari dan masa Rasulullah SAW.
Ketika ‘Ubadah berada di kota Madinah, Umar bertanya, “Apa yang menyebabkan anda ke sini, wahai ‘Ubadah?” ‘Ubadah menceritakan peristiwa yang terjadi, di antaranya dengan Mu’awiyah, maka kata Umar, “Kembalilah segera ke tempat Anda!” Amat jelek jadinya, suatu negeri yang tidak punya orang seperti anda. Lalu kepada Mu’awiyah dikirim pula surat yang di antara isinya terdapat kalimat:
“Tak ada wewenangmu sebagai amir terhadap ‘Ubadah.”
Memang, ‘Ubadah menjadi amir bagi dirinya… Dan jika Umar Al-Faruq sendiri telah memberikan penghormatan kepada seseorang setinggi ini, tentulah dia memang seorang besar…. Dan sungguh, ‘Ubadah adalah seorang besar, baik karena keimanan, maupun karena keteguhan hati dan lurus jalan hidupnya.
Pada tahun 34 H, wafatlah ia di Ramla, bumi Palestina. Ia seorang wakil ulung diantara wakil-wakil Anshar khususnya dan pemuka agama Islam pada umumnya, dengan meninggalkan teladan yang tinggi dalam arena kehidupan.
Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita untuk mencontoh amal bakti para Assabiqunal-Awwalun dan dapat melaksanakannya dalam diri pribadi sehingga kita menjadi syuhada’a ‘alan naas.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid


Selengkapnya...

'Ammar bin Yasir



Yasir bin ‘Amir, ayahanda ‘Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya… Rupanya ia berkenan dan cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah.
Abu Hudzaifah mengawinkan dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, dikarunia seorang putra bernama ‘Ammar.
Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Mereka cukup menderita dengan sikap kebiadaban dan kekejaman kaum Quraisy?
Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap kaum muslimin sesuai suasana: seandainya mereka ini golongan bangasawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, misalnya, menggertak dengan ungkapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu; akan kami jatuhkan kehormatanmu; akan kami rusak perniagaanmu; dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin; atau dari golongan budak belian, mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.
Keluarga Yasir telah ditakdirkan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari mereka. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa.
Dengan cobaan itu, Sumayyah telah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur; suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang mu’min disetiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa.
Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat itu tak ubahnya sebagai tumbal yang akan menjamin bagi agama dan ‘aqidah yang teguh dan tak akan lapuk. Ia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang; ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya?
Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang kemudian.
Sumayyah, Yassir, dan ‘Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah SAW setiap hari mennghampiri tempat dimana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, ‘Amar memanggilnya, katanya, “Wahai Rosulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.” Maka, seru Rasulullah SAW, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan… Sabarlah, wahai keluarga Yasir?Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!”
Betapa beratnya siksaan yang dialami ‘Ammar oleh kaum yang zalim, dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat: berkata ‘Ammar bin Hakam, “Ammar itu disiksa – sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.”
Berkata pula ‘Ammar bin Maimun, “Orang-orang musyrik membakar ‘Ammar bin Yasir dengan api.” Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, “Hai api, jadikan kamu sejuk dan dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!”
Orang-orang musrik menghabiskan segala daya dan upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya terhadap ‘Ammar, sampai-sampai ia meresa dirinya benar-benar celaka, ketika siksaan itu mencapai puncaknya: didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika ia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepadanya, “Pujalah olehmu Tuhan-Tuhan kami!” Mereka ajarkan kepadanya pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.
Ketika ia siuman sebentar karena siksaannya berhenti, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya. Maka, hilanglah akalnya dan terbayanglah diruang matanya, betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi…, Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur…. Tangan yang penuh berkah itu terulur menjabat tangan ‘Ammar sambil menyampaikan selamat kepadanya, “Bangunlah hai pahlawan! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat!”
Sungguh benar apa yang telah difirmankan Allah SWT, artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka belum lagi diuji?” (Q. S. Al-’Ankabut: 2)
“Apakah kalian mengira akan dapat masuk Syurga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kalian, begitupun orang-orang yang tabah?” (Q. S. Ali Imran: 142)
“Sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.” (Q. S. Al-’Ankabut: 3)
“Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjaung diantara kalia?” (Q. S. At-Taubah: 16)
“Dan musibah yang telah menimpa kalian disaat berhadapannya dua pasukan, adalah dengan adzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali Imran:166)
‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahn luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah, lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kokoh. Memang, demikianlah Al-Qur’an mendidik para pemeluknya: menghadapi kekejaman dan kekerasan dengan kesabaran, keteguhan dan pantang menyerah, yang merupakan esensi dari keimanan.
Suatu ketika, Rasulullah SAW menjumpai ‘Ammar; didapatinya ia sedang menangis, maka disapulah isak tangis itu dengan tangan beliau seraya sabdanya, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu…?”
“Benar,” wahai Rasulullah,” ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasullah sambil tersenyum, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”
Kemudian, Rasulullah membacakan kepadanya sebuah ayat:
“Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan.” (Q. S. An-nahl: 106)
Setelah mendengarnya, kembalilah ‘Ammar dengan hati yang diliputi rasa haru, tenang, dan bahagia: seolah telah hilang semua penderitaan yang selama ini ia rasakan.
‘Amar menduduki martabat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman; Rasulullah SAW amat sayang kepadanya; beliau sering membanggakannya kepada para sahabat lainnya, katanya, “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!”
Ketika terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasullah bersabda:
“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah; dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”
Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.
Mengenai perawakan ‘Ammar, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut:
Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru; seorang yang amat pendiam: tidak suka banyak bicara.
Sepak terjangnya di dalam medan pertempuran, ‘Ammar termasuk pejuang militan yang tangguh. Ia senantiasa ikut bergabung bersama Rasulullah dalam semua perjuangan bersenjata seperti: perang Badar, Uhud, Khandak, dan Tabuk. Bahkan, tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke Ar-Rafiqul A’la, ia tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya secara terus menerus.
Saat pasukan kaum muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, termasuk kaum murtad, ‘Ammar – sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa – selalu berada dibarisan pertama.
Pada masa khalifah Umar, ‘Ammar bin Yasir, tokoh yang sangat perkasa dan kokoh imannya, juga dipilih untuk menjadi wali negeri di Kuffah; Ibnu Mas’ud sebagai bendaharanya. Kepada penduduknya, Ummar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:
“Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir… Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad SAW, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!”
Dalam melaksankan pemerintahan, ‘Ammar melakukan suatu sistem yang tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia. Pangkat dan jabatannya tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup pada masanya di Kufah, Ibnu Abil Hudzail, bercerita, “Saya melihat ‘Ammar bin Yasir sewaktu menjadi amir di Kufah membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang.”
Suatu ketika, salah seorang awam berkata (menghina) kepada ‘Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fi sabilillah.”
Memang, telinga ‘Ammar itu putus dalam perang sabil di Yamamah. Ketika itu, Ammar bin Yasir maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan kekuatan musuh. Ketika gerakan pasukan muslimin mengendor, pasukan kafirin segera membangkitkan semangatnya dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.
Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut:
“Waktu perang Yamamah, saya melihat ‘Ammar sedang berada disebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru, “Hai kaum muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Syurga…? Inilah, saya: ‘Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan…! Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya.”
Sementara itu, musuh-musuh Islam bergerak dibawah tanah: berusaha menebus kekalahannya dimedan tempur dengan jalan meyebarkan fitnah. Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini. Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar, membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melanjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya disebagian besar negeri-negeri Islam. Gerakan ini menjalar ke Madinah.
Apa yang terjadi pada Umar r.a., terjadi pula pada diri Utsman r.a. Peristiwa itu menyebabkan syahidnya Utsman r.a. dan terbukanya pintu fitnah yang melanda kaum muslimin. Sepeninggal Utsman, kekalifahan dipegang oleh Ali r.a. Mu’awiyah bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan Ali r.a. Para sahabat, disamping berpihak kepada Ali, ada juga yang membela Mu’wiyah.
Tahukah anda, di pihak mana, ‘Ammar berdiri waktu itu? Ia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib: bukan karena fanatik tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji – Ali adalah Khalifah kaum muslimin.
Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya, ‘Ammar dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini. Menurut keyakinannya: tak seorang pun berhak atas hal ini, selain imam Ali. Oleh karena itu, ia berdiri disampingnya. Ali r.a. merasa gembira atas sokongan yang diberikan oleh ‘Ammar. Keyakinan Ali r.a. bahwa ia berada pada pihak yang benar kian bertambah karena dukungan sahabatnya itu.
Kemudian, datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Sementara, ‘Ammar ikut bersamanya. Waktu itu, usianya telah mencapai 93 tahun. Ia bangkit menghunus pedangnya demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.
Pandangan terhadap pertempuran ini telah lama di maklumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:
“Hai ummat manusia! Marilah kita berangakat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hendak menuntutkan bela Utsman! Demi Allah, maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan bahaya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebanaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan pendahulu pemeluk agama Islam. Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh kaum muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka mengikuti kebenaran?! Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa adikara!”
Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lalu dikibarkannya tinggi-tinggi diatas kepala sambil berseru, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah SAW, dan inilah aku siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini! Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya, seandainya mereka menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu bahwa kita pasti berada di pihak yang haq, dan mereka di pihak yang bathil”
Orang-orang mengikuti ‘Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya. Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami, “Kami ikut serta dengan Ali r.a. dipertempuran Shiffin, maka saya melihat ‘Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan atau turun ke suatu lembah, para sahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai penji-panji bagi mereka”
‘Ammar teringat akan sabda Rasulnya, “Ammar akan di bunuh oleh golongan pendurhaka,” sehingga ia merasa peristiwa ini akan mengantarkannya menjadi syahid. Ia menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Sebelum ia berangkat ke Rafiqul A’la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran.
Berita tewasnya ‘Ammar segera tersebar, dan sabda Rasulullah SAW yang didengar oleh semua sahabatnya, sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah dimasa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut.
Maka, sekarang jelaslah, siapa kiranya golongan pendurhaka itu, tidak lain adalah golongan yang membunuh ‘Ammar: yaitu dari pihak Mu’awiyah.
Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu’awiyah, keraguan mulai menyusup kedalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia hendak memisahkan diri dan begabung dengan Ali.
Setelah pemakaman ‘Ammar, beberapa saat kemudian kaum muslimin berdiri kerheran-heranan dikuburnya?! ‘Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan, hatinya penuh dengan kemgembiraan, tak ubahnya bagi seorang perantau yang merindukan kampung halaman, tiba-tiba dibawa pulang, dan terlontarlah seruan dari mulutnya:
“Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.”
Apakah ia telah mengetahui hari yang mereka janjikan akan dijumpainya? Para sahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya, “Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, dan wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Syurga telah merindukan ‘Ammar.”
“Benar,” ujar yang lain. “Dan waktu itu, juga disebutnya nama-nama yang lain, diantaranya: ‘Ali, Salman dan Bilal?
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

Selengkapnya...

Hudzaifah Ibnul Yaman



Penduduk kota Madain nerduyun-duyun menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mu’minin Umar radhiyallaahu ‘anhu… Mereka pergi menyambutnya, karena lama sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan sahabat nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai kesholehan dan ketakwaannya…, begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.
Ketika mereka menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncul seorang lelaki dengan wajah berseri-seri. Ia mengenderai seekor keledai yang beralaskan kain usang, kudua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam, dan mulutnya mengunyah…! Orang itu tidak lain dari Hudzaifah Ibnul Yaman. Mereka jadi bingung, hampir-hampir tak percaya… Tetapi apa yang akan diherankan…?

Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar…?
Hal itu dapat dipahami karena baik di masa kerajaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini…!
Hudzaifah meneruskan perjalanan, sementara orang-orang berkerumun mengelilinginya… Ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-seolah menunggu amanat, diperhatikan air muka mereka, lalu katanya, “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah…!” Ujar mereka, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah…?” Ia berkata, “Pintu-pintu rumah pembesar…! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan…!”
Suatu pernyataan yang luar biasa dan sangat menakjubkan. Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih di bencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalan pandangan matanya daripada kemunafikan. Pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri yang baru ini, serta sistem yang akan di tempuhnya dalam pemerintahan.
Hudzaifah Ibnul Yaman memasuki arena kehidupan ini dengan bekal tabiat istimewa. Di antara ciri-cirinya ialah ia anti kemunafikan, dan mampu melihat jejak dan gejalanya walau tersembunyi di tempat-tenpat yang jauh sekalipun.
Semenjak ia bersama saudaranya, Sharwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya bertambah terang dan cemerlang, maka sungguh, ia menganutnya secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, serta dipandangnya sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina.
Ia terdidik di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kalbu terbuka, tak ubah bagai cahaya subuh; hingga tak suatu pun dari persoalan hidupnya yang tersembunyi; tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya; seorang yang benar, jujur, dan mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran. Sebaliknya, ia mengutuk orang-orang yang riya, berbelit-belit, dan culas bermuka dua!
Ia bergaul denga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sungguh tak ada lagi tempat baik agar bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang selain di arena ini, yakni dalam pangkuan Agama Islam, di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di tengah-tengah golongan besar kaum perintis dari sahabat-sahabat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia kemudian mencapai keahlian dalam membaca tabiat dan airmuka seseorang. Dalam waktu singkat, ia dapat menebak airmuka tanpa susah payah meneyelidiki rahsia-rahsia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam. Kemampuannya dalam hal ini telah mencapai kepada apa yang diinginkannya, hingga Amirul Mukminin radhiyallaahu ‘anhu yang terkenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi, seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah, begitu juga ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh-tokoh dan mengenali mereka.
Hudzaifah telah di karuniai fikiran yang jernih yang menyebabkan sampai pada suatu kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang; yang jelek adalah yang gelap dan samar-samar. Oleh karena itu, orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Demikianlah, Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu terus-menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafik. Ia berkata, “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan karena takut akan terlibat di dalamnya. Pernah aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?’ ‘Ada,’ ujarnya. ‘Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?’ Tanyaku pula. ‘Memang, tetapi kabur dan bahaya,’ jawabnya. Tanyaku, ‘Apa bahaya itu?’ Jawabnya, ‘Yaitu segolongan umat mengikuti sunah bukan sunahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah.’ Kemudian setelah kebaikan tersebut, masihkah ada lagi kejahatan? Tanyaku pula. ‘Masih,’ ujar Nabi, ‘yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka!’ Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?’ Ujar Rasulullah, ‘senantiasa mengiuti jamaah Kaum Muslimin dan pemimipin mereka!’ Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin? ‘Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian…!”
Nah, tidakkah anda perhatikan ucapan Hudzaifah r.a. “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya?”
Hudzaifah Ibnul Yaman memempuh kehidupan dengan mata yang terbuka dan hati yang waspada terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya, dengan menganalisa kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang serta meraba situasi demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Semua masalah itu diolah dan digodok dalam akal pikirannya, lalu dituangkan dalam ungkpan seorang filosof yang arif dan bijaksana. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah membangkitkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka di serunya manusia dari kesesatan kepada kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima mengamalkannya, hingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup, dan dengan kebatilan yang hidup menjadi mati! Kemudian masa kenabian berlalu, dan datang masa kekhalifahan menurut jejak beliau, dan setelah itu tiba zaman kerajaan durjana.”
Ia juga bicara tentang hati dan mengenai kehidupannya yang beroleh petunjuk dan yang sesat. Ia berkata, “Hati itu ada empat macam: hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir; hati yang dua muka, itulah dia hati orang munafik; hati yang suci bersih, di sana ada pelita yang menyala, itulah dia hati orang yang beriman; Dan hati yang berisi keimanan dan kemunafikan. Tamsil keimanan itu adalah laksana sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedang kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang di airi darah dan nanah. Maka manakah di antara keduanya yang lebih kuat, itulah yang menang!”
Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-kanya menjadi tajam dan pedas. Ia mengakuinya, katanya, “Saya datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kataku padanya, ‘Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka. Maka ujar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘kenapa kemu tidak beristighfar?’ Sungguh saya beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali.”
Suatu ketika ia melihat bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, dan di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik!
Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang di hunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak, “Ayahku, ayahku, jangan, ia ayahku!” Tetapi qadha Allah telah tiba. Ketika kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun merasa duka dan sama-sama membisu. Sambil memandangi mereka dengan penuh sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, Ia mengatakan, “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan. Ia adalah sebaik-baik Penyayang”
Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya.
Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka di suruhnya membayar diat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolah oleh Hudzaifah ini dan di suruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Keimanan dan kecintaan Hudzaifah tidak kenal lelah dan lemah. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaiaan Rasulullah terhadap dirinya.
Sewaktu perang Khandaq, yakni setelah merayapnya kegelisahan dalam barisan kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan yahudi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud hendak mengetahui perkembangan terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya. Ketika itu malam gelap gelita dan menakutkan, sementara angin topan dan badai meraung dan menderu-deru, seolah-olah hendak mencabut dan menggulingkan gunung-gunung sahara yang berdiri tegak di tempatnya. Suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat dikalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka? Maka, Rasulullah memilih di antara para sahabatnya orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini. Tahukah anda, siapakah kiranya pahlawan yang dipilihnya itu? Itulah dia, Hudzaifah ibnu Yaman!
Abu Sufyan yakni panglima besar Quraisy, takut kalau-kalau kegelapan malamitu dimanfaatkan oleh mata-mata Kaum Muslimin untuk menyusup masuk ke perkemahan mereka. Maka ia pun berdiri untuk memperingatkan anak buahnya. Seruan yang di ucapkan dengan keras kedengaran oleh Hudzaifah dan bunyinya seperti berikut, “Hai segenap golongan Quraisy, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan kawan duduknya dan memgamg tangan serta mengetahui siapa namanya!”
Kata Hudzaifah, “Maka segeralah saya menjambat tangan laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya, ‘Siapa kamu ini?’ ujarnya, ‘Si Anu anak Si Anu.’” Demikianlah, Hudzaifah mengamankan kehadirannya di kalangan tentera musuh itu hingga selamat.
Abu Sufyan mengulangi lagi serua kepada tenteranya, katanya, “Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi. Kuda-kuda kita telah binasa, demikian juga halnya unta. Bani Quraidah telah mengkhinati kita hingga kita mengalami akibat yang tidak kita inginkan. Dan sebagaimana kalian saksikan sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai: periuk-periuk berpelantingan; api menjadi padam dan kemah-kemah berantakan. Maka berangkatlah kalian, saya pun akan berangkat!”
Lalu ia naik ke punggung untanya dan mulai berangkat, diikuti dari belakang oleh tenteranya. Kata Hudzaifah, “Kalaulah tidak pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya terlebih dahulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah.”
Hudzaifah kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaan musuh, serta menyampaikan berita gembira itu.
Barangsiapa yang pernah bertemu dengan Hudzaifah dan merenungkan buah pikiran dan hasil filsafatnya serta ketekunannya untuk mencapai makrifat, tak mungkin akan mengharapkan sesuatu dari padanya, kecuali sikap kepahlawanan di medan perang atau pertempuran.
Cukuplah sebagai bukti bahwa ia merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting dalam pembebasan wilayah Irak. Kota-kota: Hamdan, Rai dan Dhinawar, selesai pembebasanya di bawah komando Hudzaifah.
Dan dalam pertempuran besar Nahawand, di mana orang-orang Persi berhasil mengumpukan 150 ribu tentera, Amirul Mukminin memilih Nukman bin Muqarrin sebagai panglima Islam, sedang kepada Hudzaifah dikirimkannya surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan dari tentera Kufah.
Kepada para pejuang itu Umar mengirimkan surat katanya, “Jika kaum Muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar ialah Nukman bin Muqarrin. Dan seandainya Nukman tewas, maka panji-panji komando hendaklah di pegang oleh Hudzaifah, dan kalau ia tewas maka Jariri bin Abdillah!” Amirul Mukminin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujuh orang banyaknya yang akan memegang pimpinan tentera secara berurutan.
Dan kini, kedua pasukan pun berhadapan. Pasukan Persi dengan 150 ribu tentera, sedang kaum muslimin dengan 30 ribu orang pejuang, tidak lebih. Perang berkobar, suatu pertempuran yang tidak ada tolok-bandingnya, peperangan paliang dasyat dan paling sengit dikenal oleh sejarah!
Panglima besar kaum muslimin gugur sebagai syahid, Nukman bin Muqarrin tewaslah sudah. Tetapi sebelum bendera kaum muslimin menyentuh tanah, panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin kemenanganpun meniup dan menggiring tentera maju ke muka dengan semangat penuh dan keberanian luar biasa. Dan panglima yang baru itu tiada lain adalah Hudzaifah ibnul Yaman.
Bendera segera di sambutnya dan dipesankannya agar kematian Nukman tidak disiarkan, sebelum peperangan berketentuan. Lalu di panggilnya Naim bin Muqarrin dan ditempatkan kedudukan saudaranya Nukman, sebagai penghormatan kepadanya. Dan semua itu dilaksanakan dengan kecekatan, bertindak dalam waktu beberapa saat, sedang roda pertempuran berputar cepat, kemudian bagai angin puting beliung, ia maju menerjang barisan Persi sambil menyerukan, “Allahu Akbar, Ia telah menepati janji-Nya, Allahu Akbar, telah dibela-Nya tentera-Nya.”
Lalu diputarlah kekang kudanya ke arah anak buahnya, dan berseru, “Hai ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pintu-pintu syurga telah terbuka lebar siap sedia menyambut kedatangan tuan-tuan, jangan biarkan ia menunggu lebih lama! Ayuhlah wahai pahlawan-pahlawan Badar, Majulah pejuang-pejuang Uhud, Khaandaq dan Tabuq!”
Teriak yel-yel Hudzaifah telah memelihara semangat tempur dan ketahanan anak buahnya, jika tak dapat dikatakan telah melipat gandakannya.
Dan kesudahannya perang berakhir dengan kekalahan pahit bagi orang-orang Persi, suatu kekalahan yang jarang di temukan bandingnya!
Dialah seorang pahlawan di bidang hikmat, ketika sedang tenggelam dalam renungan; seorang pahlawan di medan juang, ketika berada di medan laga. Pendeknya, ia seorang tokoh dalam urusan apa saja yang dipikulkan di atas pundaknya, dalam setiap persoalan yang memerlukan pertimbangannya.
Maka tatkala kaum muslimin di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqash hendak pindah dari Madain ke Kufah dan bermukim di sana, yakni setelah iklim kota Madain membawa akibat buruk terhadap Kaum Muslimin dari golongan Arab, menyebabkan Umar segera memerintahkan Saad segera meninggalkan kota itu setelah menyelidiki suatu daerah yang paling cocok sebagai tempat permukiman Kaum Muslimin, maka siapakah yang diserahi tugas untuk memilih tempat dan daerah tersebut? Itulah dia Hudzaifah ibnul Yaman, yang pergi bersama Salman bin Ziyad guna menyelidiki lokasi yang tepat bagi permukiman baru itu.
Tatkala mereka sampai di Kufah, ternyata merupakan tanah kosong yang berpasir dan berbatu-batu. Hudzaifah menghirup udara segar. ia berkata kepada sahabatnya, “Di sinilah tempat permukiman itu, insya Allah.”
Demikianlah di atur rencana pembangunan kota Kufah, yang oleh ahli bangunan dijadikan menjadi sebuah kota yang permai. Dan baru saja kaum Muslimin pindah ke sana, maka yang sakit segera sembuh, yang lemah menjadi kuat, dan urat-urat mereka berdenyutan menyebarkan arus kesehatan.
Sungguh, Hudzaifah adalah orang yang berpikiran cerdas dan berpengalaman luas, kepada Kaum Muslimin selalu di pesankannya, “Tidaklah termasuk yang terbaik di antara kalian yang meninggalkan dunia demi kepentingan akhirat, dan tidak pula yang meninggalkan kepentingan akhirat demi kepantingan dunia, tetapi hanyalah yang mengambil bahgian dari keduanya.”
Pada suatu hari dalam tahun 36 Hijriyah, saatnya Hudzaifah mendapat panggilan menghadap Sang Ilahi. Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat untuk melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang sahabatnya. Maka di tanyakannya kepada mereka, “Apakah tuan-tuan membawa kain kafan?” “Ada,” ujar mereka. “Coba lihat,” kata Hudzaifah pula.
Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah di bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lalu katanya, “Kain kafan ini tidak cocok bagiku, cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju. Tidak lama aku akan berada di kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau yang lebih jelek.”
Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat tatkala di dengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di waktu rindu. Hati bahagia, tidak ada keluh sesalku.”
Ketika itu, naiklah membumbung ke hadirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti… Semoga Allah merahmatinya, amin.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

Selengkapnya...

Shuhaib bin Sinan



la dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Bapaknya menjadi hakim dan walikota “Ubullah” sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya Agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir “Jazirah” dan “Mosul,” anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia.

Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk di antaranya Shuhaib bin Sinan. la diperjualbelikan oleh saudagar-saudagar budak belian, dan perkelanaannya yang panjang berakhir di kota Mekah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi. Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya, dan diberinya kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.
Maka pada suatu hari…, yah, marilah kita dengarkan cerita kawannya yang bernama ‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada hari itu:
“Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah SAW sedang berada di dalamnya.
- Hendak ke mana kamu? tanya saya kepadanya.
- Dan, kamu hendak ke mana? jawabnya.
- Saya hendak menjumpai Muhammad saw. untuk mendengarkan ucapannya, kata saya.
- Saya juga hendak menjumpainya, ujarnya pula.
Demikianlah kami masuk ke dalam, dan Rasulullah menjelaskan tentang aqidah Agama Islam kepada kami, setelah kami meresapi apa yang dikemukakannya kami pun menjadi pemeluknya. Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya…”
Jadi Shuhaib telah tahu jalan ke rumah Arqam… Artinya ia telah mengetahui jalan menuju petunjuk dan cahaya, juga ke arah pengurbanan berat dan tebusan besar… Maka melewati pintu kayu yang memisah bagian dalam rumah Arqam dari bagian luarnya, tidak hanya berarti melangkahi bandul pintu semata…, tetapi hakikatnya adalah melangkahi batas-batas alam secara keseluruhan…! Yakni alam lama dengan segala apa yang diwakilinya baik berupa keagamaan dan akhlaq, maupun berupa peraturan yang harus dilangkahinya menuju alam baru dengan segala aspek dan persoalannya… Melangkahi bandul pintu rumah Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakekat dan kenyataannya adalah melangkahi bahaya besar luas dan lebar.
Maka menghampiri rintangan itu – maksud kita bandul tersebut mema’lumkan datangnya suatu masa yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak enteng…! Apalagi bagi fakir miskin, budak belian dan orang perantau, memasuki rumah Arqam itu artinya tidak lain dari suatu pengurbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia. Shahabat kita Shuhaib adalah anak pendatang atau orang perantau, sedang shahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah tadi yakni ‘Ammar bin Yasir – adalah seorang miskin… Tetapi kenapa keduanya itu berani menghadapi bahaya, dan kenapa mereka bersiap sedia untuk menemuinya…?
Nah, itulah dia panggilan iman yang tak dapat dibendung…! Dan itulah dia pengaruh kepribadian Muhammad saw., yang kesan-kesannya telah mengisi hati orang-orang baik dengan hidayah dan kasih sayang…! Dan itulah dia daya pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang, yang telah memukau akal fikiran yang muak melihat kebasian barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya…!
Dan di atas semua ini, itulah rahmat dari Allah Ta’ala yang dilimpahkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, serta petunjuk-Nya yang diberikan kepada orang yang kembali dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan tersiksa! Begitu pula dalam barisan para dermawandan penanggung uang tebusan…!
Pernah diceritakan keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang Muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-panji Agama Islam, katanya, “Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya…”
Dan tiada suatu bai’at yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya… Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya… Dan tidak pernah beliau bertempur baik di masa-masa pertama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya.
Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang… Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah SAW berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menernui Allah.
Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa… Sungguh, Shuhaib – semoga Allah meridlainya dan meridlai semua shahabatnya – layak untuk mendapatkan keunggulan iman ini, semenjak ia menerima cahaya illahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasulullah SAW Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesama manusia, bahkan dengan dirinya pribadi mendapatkan corak baru. Jiwanya telah tertempa menjadi keras dan ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi segala macam peristiwa dan menjinakkan marabahaya…
Dan sebagai telah kita kemukakan dulu, ia selalu menghadapi segala akibat dan risiko dengan keberanian luar biasa. la tak hendak mundur dari segala pertempuran atau mengucilkan diri dari bahaya, sedang kegemarannya dialihkannya dari menumpuk keuntungan kepada memikul tanggung jawab, dari meni’mati kehidupan kepada mengarungi bahaya dan mencintai maut…
Hari-hari perjuangannya yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat hijrahnya. Pada hari itu ditinggalkannya segala emas dan perak serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama berbilang tahun di Mekah. Semua kekayaan ini, yakni segala yang dimilikinya, dilepaskan dalam sekejap saat tanpa berpikir panjang atau mundur maju.
Ketika Rasulullah hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahuinya, dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar… Tetapi orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan Rasulullah.
Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka, hingga terhalang untuk hijrah untuk sementara waktu, sementara Rasulullah dengan shahabatnya berhasil meloloskan diri atas berkah Allah Ta’ala. Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah, hingga ketika mereka lengah ia naik ke punggung untanya, lalu dipacunya hewan itu dengan sekencang-kencangnya menuju sahara luas… Tetapi Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hampir berhasil.
Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka, ia berseru katanya, “Hai orang-orang Quraisy! Kalian sama mengetahui bahwa saya adalah ahli panah yang paling mahir… Demi Allah, kalian takkan berhasil mendekati diriku, sebelum saya lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini, dan setelah itu akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjata di tanganku habis semua! Nah, majulah ke sini kalau kalian berani…! Tetapi kalau kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkan daku…!”
Mereka sama tertarik dengan tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya, kata mereka, “Memang, dahulu waktu kamu datang kepada kami, kamu adalah seorang miskin lagi papa. Sekarang hartamu menjadi banyak di tengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Lalu kami hendak membawa pergi bersamamu semua harta kekayaan itu…?”
Shuhaib menunjukkan tempat disembunyikan hartanya itu, hingga mereka membiarkannya pergi sedang mereka kembali ke Mekah. Dan suatu hal yang aneh ialah bahwa mereka mempercayai ucapan Shuhaib tanpa bimbang atau bersikap waspada, hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta agar ia mengucapkan sumpah…!
Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Shuhaib melanjutkan lagi perjalanan hijrahnya seorang diri tetapi berbahagia, hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah SAW di Quba. Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang shahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.
Dan demi Rasulullah melihatnya, beliau berseru dengan gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganma, hai Abu Yahya!”
Dan ketika itu juga turunlah ayat:
“Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridlaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hamba-Nya!” (Q. S. Al-Baqarah: 207)
Memang, Shuhaib telah menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaan, ia mengumpulkan harta kekayaan itu dengan menghabiskan masa mudanya, yah seluruh usia mudanya…, dan sedikit pun ia tidak merasa dirinya rugi! Apa artinya harta, emas, perak dan seluruh dunia ini, asal imannya tidak terganggu, hati nuraninya berkuasa dan kemauannya menjadi raja! la amat disayangi oleh Rasulullah SAW. Di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka.
Pada suatu hari Rasulullah melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak. Tanya Rasulullah kepadanya sambil tertawa, “Kenapa kamu makan kurma sedang sebelah matamu bengkak?” “Apa salahnya?” ujar Shuhaib; “. . . saya memakannya dengan mata yang sebelah lagi…?”
Shuhaib juga seorang pemurah dan dermawan. Tunjangan yang diperolehnya dari Baitul mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan, memenuhi firman Allah Ta’ala:
“Dan diberikannya makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang tawanan.” (Q. S. Ad-Dahr: 8)
Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar, katanya kepada Shuhaib, “Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas…!” Jawab Shuhaib, “Sebab saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian ialah yang suka memberi makanan.”
Dan setelah diketahui kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, maka dipilihnya oleh Umar bin Khatthab untuk menjadi imam bagi Kaum Muslimin dalam shalat mereka, merupakan suatu keistimewaan dan kecemerlangan.
Tatkala Amirul Mu’minin diserang orang sewaktu melakukan shalat shubuh bersama Kaum Muslimin, maka disampaikannyalah pesan dan kata-kata akhirnya kepada para shahabat, katanya, “Hendaklah Shuhaib menjadi imam Kaum Muslimin dalam shalat…!”
Ketika itu, Umar telah memilih enam orang shahabat yang diberi tugas untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Dan khalifah Kaum Musliminlah yang biasanya menjadi imam dalam shalat-shalat mereka. Maka siapakah yang akan bertindak sebagai imam dalam saat-saat vakum antara wafatnya Amirul Mu’minin dan terpilihnya khalifah baru itu?
Tentulah Umar, apalagi dalam saat-saat seperti itu, ya’ni ketika ruhnya yang suci hendak berangkat menghadap Allah, akan berpikir seribu kali sebelum menjatuhkan pilihannya. Maka kalau ia telah memutuskan pilihannya, tentulah tak ada orang yang lebih beruntung dan memenuhi syarat dari orang yang dipilihnya itu. Dan Umar telah memilih Shuhaib.
Dipilihnya untuk menjadi imam untuk Kaum Muslimin menunggu munculnya khalifah baru yang akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Dan ketika ia memilihnya, bukan tidak tahu bahwa lidah Shuhaib adalah lidah asing. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuhaib bin Sinan.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid

Selengkapnya...

Abdullah bin Mas'ud



Ia adalah orang yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an dengan suara merdu.
Sebelum Rasulullah masuk kerumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah SAW. Dengan demikian, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam.
Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah itu diceritakannya sebagi berikut:
“Ketika itu saya masih remaja, mengembalakan kambing kepunyaan ‘Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi Muhammad SAW bersama Abu bakar, dan bertanya, “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami? “Aku orang kepercayaan,” ujarku, “dan tak dapat memberi anda minuman…!”
Maka sabda Nabi SAW, “Apakah kamu punya kambing betina mandul yang belum dikawini oleh yang jantan…?” “Ada,” ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu di sapu susunya sambil memohon kepada Allah SWT. Tiba-tiba susu itu berair banyak, kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang di gunakan Nabi untuk menampungan perahan susu. Lalu Abu bakar minumlah dan saya pun tidak ketinggalan… setelah itu, Nabi menitahkan kepada susu, “Kempislah!” maka susu itu menjadi kempis…
Setelah peristiwa itu saya mendatangi Nabi, kataku, “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut!” Ujar Nabi SAW, ” Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”
Alangkah heran dan ta’jubnya Ibnu Mas’ud ketika menyaksikan seorang hamba Allah yang shalih dan utusan-Nya yang di percaya memohon kepada Tuhannnya sambil menyapu ke susu hewan yang belum pernah berair selama ini, tiba-tiba mengeluarkan kurnia dan rizqi dari Allah berupa air susu murni yang enak buat di minum…!
Pada saat itu belum disadarinya bahwa peristiwa yang disaksikannya itu hanyalah merupakan mu’jizat paling enteng dan tidak begitu berarti, dan bahwa tidak berapa lama lagi dari Rasulullah SAW yang mulia ini akan di saksikannya mu’jizat yang akan mengguncangkan dunia dan memenuhinya dengan petunjuk serta cahaya.
Bahkan pada saat itu juga belum di ketahuinya, bahwa yang dirinya sendiri yang ketika itu masih seorang remaja yang lemah lagi miskin, yang menerima upah sebagai pengembala kambing milik ‘uqbah bin Mu’aith, akan muncul sebagai salah satu dari mu’jizat ini, yang setelah di tempa oleh Islam akan menjadi seorang beriman, dan akan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy dan menaklukan kesewenangan para pemukanya.
Maka ia, yang selama ini tidak berani lewat dihadapan salah seorang pembesar Quraisy kecuali dengan menjingkatkan kaki dan menundukan kepala, di kemudian hari setelah masuk Islam, ia tampil di didepan para majlis para bangsawan si sisi Ka’bah, sementara semua pemimpin dan pemuka Quraisy duduk berkumpul, lalu berdiri di hadapan mereka dan mengumandangkan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat, berisikan wahyu Illahi Al-Qur’anul Karim:
“Bismillahirrahmaanirrahiim…
Allah yang Maha Rahman…
Yang telah mengajarkan Al-Qur’an…
Menciptakan insan…
Dan menyampaikan padanya penjelasan…
Matahari dan bulan beredar menurut…
Perhitungan…
Sedang bintang dan kayu-kayuan sama…
Sujud kepada Tuhan…
Lalu di lanjutkannya bacaanya, sementara pemuka-pemuka Quraisy sama terpesona, tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka… dan tak tergambar dalam fikiran mereka bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka…, tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan pengembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy… yaitu Abdullah bin Mas’ud, seorang yang miskin yang hina dina…!
Marilah kita dengan keterangan dari saksi mata melukiskan peristiwa yang amat manarik dan mena’jubkan itu! Orang itu tiada lain dari Zubair r.a. katanya:
“Yang mula-mula menderas Al-Qur’an di Mekah setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Mas’ud r.a. pada suatu hari para sahabat Rasulullah SAW berkumpul, kata mereka, “Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikitpun Al-Qur’an ini di baca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah, siapa diantara kita yang bersedia mendengarkannya kepada mereka…?”
Maka kata Abdullah bin Mas’ud, “Saya.” Kata mereka, “Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan adalah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankan dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat…” “Biarkanlah saya!”kata Abdullah bin Mas’ud pula, “Allah pasti membela.”
Maka datanglah Abdullah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy di waktu Dhuha, yakni ketika mereka berada di balai pertemuannya… Ia berdiri di panggung lalu membaca “Bismillahirrahmaanirrahiimi” dan dengan mengeraskannya suaranya; Arrahman…’allamal Qur’an…
Lalu sambil menghadap kepada mereka di terusksanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya, “Apa yang di baca oleh anak si Ummu’Abdin itu…? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!”
Mereka bangkit mendatanginya dan memukulinya, sedang Abdullah bin Mas’ud membacanya sampai batas yang di kehendaki Allah… Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kapada para sahabat. Kata mereka, “Inilah yang kami khawatirkan tentang dirimu…!” Ujar Abdullah bin Mas’ud, “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat yang sama esok hari…!” Ujar mereka, “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”
Benar, pada saat Abdullah bin Mas’ud tercengang melihat susu kambing tiba-tiba berair sebelum waktunya, belum menyadari bahwa ia bersama kawan-kawan senasib dari golongn miskin tidak berpunya, akan menjadi salah satu mu’jizat besar dari Rasulullah saw, yakni ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah dan menguasai dengannya cahaya siang dan sinar matahari. Tidak di ketahuinya bahwa saat itu telah dekat… Kiranya secepat itu hari datang dan lonceng waktu telah berdentang, anak remaja buruh miskin dan terlunta-lunta serta merta menjadi suatu mu’jizat di antara berbagai mu’jizat Rasulullah SAW …!
Dalam kesibukan dan perpacuan hidup, tiadalah ia akan menjadi tumpuan mata… Bahkan di daerah yang jauh dari kesibukan pun juga tidak…! Tak ada tempat baginya di kalangan hartawan, begitupun di dalam lingkungan ksatria yang gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.
Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam soal pengaruh, maka derajatnyapun di bawah… tapi sebagai ganti dari kemiskinnaya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, di anugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahnya ilmu pengetahuan, kemuliaan, serta ketetapan yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.
Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah SAW ketika beliau mengatakan padanya, “Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar.” Ia telah di beri pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat Muhammad saw, dan tulang punggung para huffadh Al-Qur’anul Karim.
Mengenai dirinya ia pernah mengatakan, “Saya telah menampung 70 surat Al Qur’an yang dengan langsung dari Rasulullah saw tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini…”
Dan rupanya Allah SWT memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan Al-Qur’an secara terang-terangkan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah di saat siksaan dan penindasan merajalela, maka di anugerahi-Nya bakat istimewa dalam membawakan bacaan Al-Qur’an dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.
Rasulullah saw telah memberi wasiat kepada para sahabat agar mengambil Abdullah bin Mas’ud sebagai teladan, sabda Rasulullah SAW, “Berpegangteguhlah pada kepada ilmu yang diberikan oleh ibnu ummi ‘Abdin…!
Diwashiatkannya pula agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca Al-Qur’an dari padanya. Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang ingin hendak membaca Al Qur’an tepat seperti di turunkan, hendaklah ia membacanya seperti Ibnu Ummi ‘Abdin…!”
Sungguh, telah lama Rasulullah menyenangi bacaan Al-Qur’an dari mulut Ibnu Mas’ud…
Pada suatu hari ia memanggilnya sabdanya, “Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”
“Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah…?”
Jawab Rasulullah, “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain.”
Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya di mulai dari surat An-Nisa hingga pada sampai firman Allah ta’ala, “Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap ummat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka…! Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasulullah SAW sama berharap kiranya mereka disama ratakan dengan bumi…! Dan mereka tidak dapat merasahasiakan pembicaraan dengan Allah…!” (Q. S. An-Nisa: 41-42)
Maka Rasulullah SAW tak dapat menahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya di isyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya, “Cukup…, cukuplah sudah, hai Ibnu Mas’ud…!”
Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas’ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya, “Tidak suatu pun dari Al-Qur’an itu yang di turunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa yang di turunkannya. Dan tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat di capai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!”
Keistimewaan Ibnu Mas’ud ini telah diakui oleh para sahabat. Amirul Mu’minin, Umar, berkata mengenai dirinya, “Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-limpah.”
Dan berkata Abu Musa Al Qur’an-Asy’ari, “Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah selama kyai ini berada pada tuan-tuan!”
Tidak hanya keunggulannya dalam Al-Qur’an dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketakwaan.
Berkata Hudzaifah tentang dirinya, “Tidak seorangpun saya lihat yang lebih mirip Rasulullah saw baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, dari pada Ibnu Mas’ud… dan orang-orang yang di kenal dari sahabat-sahabat Rasulullah saw sama mengetahui bahwa puteranya dari Ummi ‘Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah…!”
Pada suatu hari serombongan sahabat berkumpul pada Ali Karamullahu Wajhah (semoga allah memuliakan wajah atau dirinya), lalu kata mereka kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah lembut dalam mengajar, begitupun yang lebih baik pergaulannya, dan lebih shalih dari pada Abdullah bin Mas’ud…!” Ujar Ali, “Saya minta tuan-tuan bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati tuan-tuan…?” “Benar,” ujar mereka.
Kata Ali pula, “Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya,bahwa saya berpendapat mengenai dirinya seperti apa yang mereka katakan itu, atau lebih baik dari itu lagi… Sungguh, telah di bacanya Al Qur’an, maka dihalalkannya barang yang halal dan di haramkannya barang yang haram…, seorang yang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang as-Sunnah…!”
Suatu ketika para sahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas’ud, kata mereka, “Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah SAW)…”
Maksud mereka ialah bahwa Abdullah bin Mas’ud beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah saw, suatu hal yang jarang di dapat oleh orang lain. Ia lebih sering masuk kerumah Rasulullah SAW dan menjadi teman duduknya. Dan lebih-lebih lagi ia ialah tempat Rasulullah SAW menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia di beri gelar “Peti Rahasia.”
Berkata Abu Musa Al-Qur’an-Asy’ari, “Sungguh setiap saya melihat Rasulullah saw, pastilah Ibnu Mas’ud berada menyertainya…”
Adapun yang menjadi sebab ialah karena Rasulullah SAW amat menyayanginya, terutama keshalihan dan kecerdasannya serta kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah SAW pernah bersabda mengani dirinya, “Seandainya saya hendak mengangkat seseorang sebagai amir tanpa musyawarat dengan kaum muslimin, tentulah yang saya angkat itu Ibnu Ummi ‘Abdin…”
Dan telah kita kemukakan wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, “Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi ‘Abdun!”
Maka kesayangan dan kepercayaan ini memungkinkannya untuk bergaul rapat dengan Rasulullah saw, hingga ia beroleh hak yang tidak di berikannya kepada orang lain, bersabda Rasulullah SAW kepadanya, “Saya idzinkan kamu bebas dari tabir hijab…!”
Ini merupakan lampu hijau bagi Ibnu Mas’ud untuk masuk rumah Rasulullah saw dan pintunya senantiasa terbuka baginya, biar siang maupun malam, dan inilah yang pernah di perkatakan oleh para sahabat , “Sementar kita terhalang, ia di beri izin, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan…”
Dan memang Ibnu Mas’ud banyak untuk memeproleh keistimewaan ini… Karena walupun pergaulan rapat seperti ini akan memberikan padanya keuntungan, tetapi Ibnu Mas’ud hanya bertambah khusu’, tambah hormat dan sopan santun…
Mungkin gambar yang melukiskan akhlaknya secara tepat, ialah sikapnya ketika menyampaikan hadith dari Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Walaupun ia jarang menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW, tetapi kita lihat setiap ia menggerakan kedua bibirnya untuk mengatakan, “Saya dengar Rasulullah saw menyampaikan hadits dan bersabda…,” maka tubuhnya gemetar dengan amat sangat, dan ia tampak gugup dan gelisah. Sebabnya tiada lain karena takutnya akan alpa, hingga bersalah menaruh kata di tempat yang lain…!
Marilah kita dengarkan kawan-kawanya melukiskan gejala-gejala ini! Berkatalah ‘Amar bin Maimun:
“Saya bolak-bolak kerumah Abdullah bin Mas’ud ada setahun lamanya, dan selama itu tak pernah saya dengar ia menyampaikan hadits dari Rasulullah SAw, kecuali sebuah hadits yang di sampaikannya pada suatu hari. Dari mulutnya mengalir ucapan: ‘Telah bersabda Rasulullah SAW, tiba-tiba ia kelihatan gelisah hingga tanpak keringat bercucuran dari keningnya.’ Kemudian katanya megulangi kata-kata yang tadi, ‘Kira-kira demikianlah disabdakan oleh Rasulullah SAW…’”
Dan bercerita Al-Qamah bin Qais:
Biasanya Abdullah bin Mas’ud berpidato setiap hari Kamis sore menyampaikan Hadits. Tidak pernah saya dengar ia mengucapkan, “Telah bersabda Rasulullah SAW,” kecuali satu kali saja… disaat itu saya melihat ia bertelekan tongkat, dan tongkatnya itupun bergetar dan bergerak-gerak…”
Dan di ceritakan pula oleh Masruq mengenai Abdullah ini:
“Pada suatu hari Ibnu Mas’ud menyampaikan sebuah Hadits, katanya, “Saya dengar Rasulullah SAW…” Tiba-tiba ia jadi gemetar, dan pakainnya bergetar pula… kemudian katanya, “Atau kira-kira demikian…, atau kira-kira seperti itulah…”
Nah, sampai sejauh inilah ketelitian, penghormatan dan penghargaannya kepada Rasulullah SAW… disamping menjadi bukti ketaqwaannya, ketelitian, dan penghormatannya ini merupakan tanda kecerdasannya…!
Orang yang lebih banyak bergaul dengan Rasulullah SAW, penilaiannya tehadap kemuliaan Rasulullah SAW lebih tepat… dan itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah saw ketika beliau masih hidup, begitupun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tak ada duanya…!
Ibnu Mas’ud tak hendak berpisah dari Rasulullah saw baik di waktu bermukim maupun di waktu bepergian. Ia telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Dan peranannya dalam perang badar meninggalkan kenangan yang tak dapat di lupakan, yakni rubuhnya Abu Jahal oleh tebusan pedang kaum muslimin pada hari yang keramat itu…
Khalifah-khalifah dan para sahabat Rasulullah SAW mangakui kedudukannya ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mu’minin Umar sebagai Bendaharawan di kota Kufah. Kepada penduduk waktu mengirimnya itu mengatakan:
“Demi Allah yang tiada Tuhan mealinkan dia , sungguh saya lebih mementingkan tuan-tuan dari pada diriku, maka ambilah dan pelajarilah ilmu dari padanya…!”
Dan penduduk Kufah telah mencintainya, suatu hal yang belum pernah di peroleh orang-orang sebelumnya, atau orang yang setaraf dengannya… Sungguh, kebulatan penduduk Kufah untuk mencintai seseorang, merupakan suatu hal yang mirip dengan mu’jizat… sebabnya ialah karena mereka biasa menentang dan memberontak, mereka tidak tahan menghadapi hidangan yang serupa…, dan tidak mampu hidup selalu dalam aman tenteram…!
Dan karena kecintaan mereka kepadanya demikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya sewaktu ia hendak di perhentikan oleh Khlaifah Utsman r.a dari jabatannya, kata mereka, “Tetaplah anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela anda dari mala petaka yang menimpa anda!”
Tetapi dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, Ibnu Mas’ud menjawab, katanya, “Saya harus taat kepadanya, dan dibelakang hari akan timbul fitnah, dan saya tak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya…!”
Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas’ud dengan khalifah Utsman r.a. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunannya di tahan dari baitulmal. Walau demikian, tidak sepatah kata pun yang tidak baik, kelauar dari mulutnya mengenai Utsman, bahkan ia berdiri sebagai pembela dan memperingatkan rakyat ketika di lihatnya persekongkolan di masa Utsman itu telah meningkat menjadi suatu pemberontakan. Dan ketika terbetik berita ketelinganya mengenai percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman itu, keluarlah dari mulutnya ucapan yang terkenal:
“Sekiranya mereka membunuhnya, maka tak ada lagi orang yang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah…” Dalam pada itu, di antara kawan-kawan Ibnu Mas’ud ada yang berkata, “tak pernah saya dengar Ibnu Mas’ud mengeluarkan cercaan satu kata pun terhadap Utsman…”
Allah SWT telah menganugerahinya hikmah sebagaimana telah memberinya sifat taqwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat yang jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapnya secara menarik dan tepat.
Marilah kita dengar ucapannya yang menggambarkan kesimpulan hidup yang istimewa dari Umar dengan kata-kata singkat tapi padat dan mena’jubkan, katanya, “Islamnya mereka suatu kemenangan…, hijrahnya mereka pertolongan…, sedang pemerintahannya menajdi suatu rahmat.”
Berbicara tentang apa yang dikatakan orang seakrang tentang relativitas masa, ia mengatakan, “Bagi Tuhan kalian tiada siang dan malam…! Cahaya langit dan bumi itu bersumber dari cahayanya…!”
Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini katanya, “Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur tak ada usahanya untuk kepentingan dunia, dan tidak pula untuk kepentingan akhirat.”
Dan diantara kata-katanya yang bersayap ialah:
“Sebaik-baik kaya ialah kaya hati;
sebaik-baik bekal ialah taqwa;
seburuk-buruk buta ialah buta hati;
sebesar-besar dosa ialah berdusta;
sejelek-jelek uasaha ialah memungut riba;
seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim;
siapa yang memaafkan orang akan di maafkan Allah;
dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah.”
Nah, itulah gambaran singkat Abdullah bin Mas’ud sahabat Rasulullah SAW; dan itulah dia, kilasan dari suatu kehidupan besar dan perkasa yang dilalui pemiliknya di jalan Allah dan Rasul-Nya serta Agama-Nya.
Itulah dia, laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung merpati, kurus dan pendek, hingga badannya tidak akan berapa bedanya dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan kempes, yang tampak ketika ia memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk di gunakan Rasulullah SAW. Para sahabat sama menetertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, “Tuan-tuan menetertawkan betis Ibnu Mas’ud , keduanya disisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung Uhud!”
Memang, inilah dia orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus dan hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya saah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk dan cahaya.
Ia telah di karunia taufiq dan ni’mat oleh Allah yang menyebabkannya termasuk dalam golongan “sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW yang pertama masuk Islam,” yakni orang-orang yang selagi hidupnya telah menerima berita gembira beroleh ridla Allah SWT dan surga-Nya.
Ia telah terjun dan tak pernah absen dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan di masa Rasulullah saw, begitupun di masa Khalifah sepeninggal beliau. Dan dia turut menyaksikan dua buah imperiaum dunia membukakan pintunya dengan tunduk dan patuh di masuki panji-panji Islam dan ajarannya.
Disaksikannya jabatan-jabatan yang tersedia dan menunggu orang-orang Islam yang mau mendudukinya, begitu pun harta yang tidak terkira banyaknya bertumpuk-tumpuk di hadapan mereka, tetapi tidak satupun yang mengusik dan melupakannya dari janji yang telah di ikrarkannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, atau merintangi dari garis hidup dan ketekunan ibadat yang di liputi rasa khsusu’ dan tawadlu’.
Dan diantar keinginan dan cita-cita hidup, tidak satupun yang menarik hatinya kecuali sebuah, yakni yang selalu di rindukan, menjadi bauh bibir dan senandungnya, serta menjadi angan-angan untuk mendapatkannya.
Nah, marilah kita simak, kata-kata yang ia sendiri menceritakan hal itu kepada kita:
“Aku bangun di tengah malam, ketika itu aku mengikuti Rasulullah SAW di perang Tabuk. Maka tampaklah olehku nyala api di pinggir perkemahan, lalu kudekati untuk melihatnya. Kiranya Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar. Rupanya mereka sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzulbijadain An-Muzanni yang ternyata telah wafat. Rasulullah SAW ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, “Ulurkanlah lebih dekat padaku saudara tuan-tuan itu…! Lalu mereka mengulurkan kepadanya. Dan tatkala di letakkannya di lubang lahat, beliau berdo’a, “Ya Allah, aku telah ridla kepadanya, maka ridla’i pula ia oleh-Mu! Alangkah baiknya sekiranya akulah yang menjadi pemilik liang kubur itu!”
Nah, itulah dia satu-satunya cita-cita yang di harapkan dan di angan-angankan selagi hidupnya.
Dan sebagai anda ketahui, ia tak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu untuk di kejar-kejar dan di perebutkan orang, berupa kemuliaan, kekayaan, pengaruh atau jabatan.
Hal ini karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah SWT memperoleh tuntutan dari Al-Qur’an, dan menerima didikan dari Rasulullah SAW.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid


Selengkapnya...